Di tengah gempuran makanan
modern dan waralaba asing, jajanan pasar tetap kokoh berdiri sebagai
benteng rasa dan tradisi. Lebih dari sekadar camilan, jajanan pasar adalah
cerminan kekayaan budaya, kearifan lokal, dan memori kolektif yang tak lekang
oleh waktu. Otentisitasnya bukan hanya terletak pada resep turun-temurun,
melainkan juga pada pengalaman indrawi yang menyeluruh, dari aroma yang menguar
hingga tekstur yang menggoda.
Jejak Sejarah dalam Setiap
Gigitan
Setiap jajanan pasar memiliki
kisahnya sendiri. Ambil contoh klepon dengan taburan kelapa parut dan
gula merah cair yang meletup di mulut, atau getuk yang lembut dengan
aroma singkong yang khas. Jajanan-jajanan ini bukan sekadar hasil kreasi acak,
melainkan warisan kuliner yang telah melalui proses adaptasi dan penyempurnaan
selama berabad-abad. Bahan-bahan yang digunakan seringkali merupakan hasil bumi
lokal, mencerminkan kekayaan agraris Indonesia dan kepekaan masyarakatnya
terhadap lingkungan.
Macam-macam Jajanan Pasar
yang Melegenda
Keberagaman jajanan pasar
adalah salah satu pesonanya. Setiap daerah mungkin punya keunikan tersendiri,
namun beberapa jenis jajanan telah menjadi ikon yang dikenal luas di seluruh
Nusantara. Berikut adalah beberapa di antaranya:
- Kue Basah:
Kelompok ini sangat beragam dan biasanya memiliki tekstur lembut.
Contohnya adalah Klepon (bola-bola ketan isi gula merah), Getuk
(olahan singkong kukus), Lumpia (gulungan kulit tepung isi rebung
atau sayuran), Semar Mendem (mirip lemper tapi dibungkus dadar
tipis), Lapis Legit (kue berlapis dengan aroma rempah), Kue
Mangkok (kue kukus mekar), Nagasari (pisang dibungkus adonan
tepung beras), dan Onde-onde (bola-bola ketan goreng bertabur wijen
dengan isi kacang hijau).
- Kue Kering Tradisional:
Meskipun tidak sebanyak kue basah, ada juga kue kering yang menjadi bagian
dari jajanan pasar. Misalnya, Kue Satu (kue kering dari sagu) atau
beberapa jenis Rengginang (kerupuk beras ketan yang digoreng).
- Gorengan:
Jajanan pasar yang digoreng ini selalu jadi favorit. Sebut saja Bakwan
(gorengan sayuran), Tahu Isi (tahu goreng diisi sayuran), Tempe
Mendoan (tempe goreng setengah matang), Cireng (aci digoreng),
hingga Pisang Goreng dengan berbagai variasi.
- Jajanan dari Ubi/Singkong:
Olahan dari bahan dasar ini sangat melimpah. Selain getuk, ada Cenil
(adonan kenyal berwarna warni dengan taburan kelapa), Misro
(singkong parut isi gula merah, digoreng), Dadar Gulung (dadar
hijau isi unti kelapa), dan Klepon (yang juga masuk kategori kue
basah).
- Jajanan Berkuah/Berendam:
Meskipun tidak terlalu banyak, ada juga jajanan pasar yang disajikan
dengan kuah atau berendam. Contohnya Es Selendang Mayang (es dengan
potongan kue warna-warni dan kuah santan gula merah) atau Bubur Sumsum
(bubur tepung beras dengan kuah kinca).
Otentisitas Rasa: Harmoni
Tradisi dan Kesederhanaan
Otentisitas rasa jajanan
pasar terletak pada kesederhanaan bahan dan proses. Tidak ada bahan
pengawet atau pewarna buatan yang berlebihan. Rasa manis didapat dari gula
merah atau kelapa, aroma harum dari pandan atau daun pisang, dan tekstur kenyal
dari tepung beras atau singkong. Para penjual jajanan pasar, yang seringkali
merupakan generasi penerus, masih mempertahankan cara pembuatan tradisional.
Mereka mungkin tidak memiliki peralatan canggih, namun keahlian tangan dan
intuisi rasa yang diwariskan adalah jaminan keaslian.
Misalnya, proses pembuatan lemper
yang masih dibungkus satu per satu dengan daun pisang dan dikukus hingga matang
sempurna, atau serabi yang dimasak di atas tungku arang untuk
mendapatkan tekstur renyah di luar dan lembut di dalam dengan aroma smoky yang
khas. Setiap langkah ini adalah bagian dari menjaga otentisitas yang tak
tergantikan.
Pengalaman Otentik: Lebih
dari Sekadar Makanan
Otentisitas jajanan pasar
juga melampaui aspek rasa. Ia menciptakan pengalaman multisensori yang
membangkitkan kenangan. Bau harum adonan yang baru matang, tampilan warna-warni
kue yang tertata rapi di nampan, hingga suara riuh rendah pasar tradisional
yang menjadi latar belakang. Jajanan pasar bukan hanya tentang memenuhi rasa
lapar, tetapi juga tentang memicu nostalgia, mengingat masa kecil, dan
merasakan kehangatan komunitas.
Lalu, "Siapa yang
mencetuskan ide jajanan pasar?" adalah pertanyaan yang menarik, namun tidak
ada satu pun individu atau "penemu" tunggal yang mencetuskan ide
jajanan pasar. Jajanan pasar bukanlah sebuah penemuan tunggal, melainkan evolusi
budaya kuliner yang telah berlangsung selama berabad-abad di Nusantara.
Berikut adalah beberapa poin
penting mengenai asal-usul jajanan pasar:
- Berakar pada Tradisi Masyarakat Kuno:
Konsep jajanan pasar sudah ada sejak zaman kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Pada masa itu, makanan ini seringkali menjadi hidangan pokok atau
pelengkap dalam acara adat, upacara keagamaan, dan pertemuan
masyarakat. Kebutuhan akan makanan praktis yang mudah diakses dan
dibawa, terutama di tengah aktivitas pasar atau perjalanan, mendorong
terciptanya berbagai jenis jajanan.
- Kearifan Lokal dan Pemanfaatan Bahan
Baku: Jajanan pasar lahir dari kearifan lokal
masyarakat dalam memanfaatkan hasil bumi di sekitar mereka. Tepung
beras, ketan, singkong, ubi, kelapa, gula merah, dan rempah-rempah menjadi
bahan dasar yang diolah dengan teknik sederhana namun efektif (kukus,
rebus, goreng). Ini menunjukkan kreativitas kolektif masyarakat dalam
mengolah sumber daya alam yang tersedia.
- Akulturasi Budaya:
Meskipun banyak jajanan pasar yang asli Indonesia, ada juga beberapa jenis
yang merupakan hasil akulturasi dengan budaya asing yang datang ke
Nusantara melalui jalur perdagangan dan kolonialisme. Misalnya, beberapa
jajanan basah mendapat pengaruh dari Tiongkok, sementara kue-kue seperti
lapis legit dan semprong memiliki sentuhan Eropa. Proses ini memperkaya
khazanah jajanan pasar dengan beragam rasa dan teknik.
- Evolusi dan Warisan Antargenerasi:
Jajanan pasar berkembang secara organik seiring waktu. Resep-resep
diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui praktik
langsung, bukan melalui penciptaan oleh satu orang. Para ibu, nenek, dan
pedagang di pasar secara turun-temurun menjaga dan mengembangkan resep
serta teknik pembuatan jajanan ini.
Jadi, alih-alih dicetuskan
oleh satu orang, jajanan pasar adalah cerminan kolektif dari sejarah,
budaya, dan kreativitas masyarakat Indonesia yang telah diwariskan dari
generasi ke generasi.
Sama seperti tidak ada
"penemu" tunggalnya, tidak ada satu lokasi spesifik yang bisa
disebut sebagai tempat pertama kali lahirnya jajanan pasar. Jajanan pasar
adalah fenomena yang tumbuh dan berkembang secara paralel di berbagai
wilayah di Nusantara, seiring dengan munculnya peradaban, pusat-pusat
perdagangan, dan perkembangan budaya agraris.
Berikut beberapa alasan
mengapa sulit untuk menunjuk satu tempat:
- Sifat Agraris Masyarakat:
Sebagian besar masyarakat Nusantara adalah agraris. Berbagai jenis
umbi-umbian, padi, dan kelapa sudah ada di banyak daerah. Kebutuhan untuk
mengolah hasil panen ini menjadi makanan yang praktis dan tahan lama
mendorong terciptanya beragam jajanan di mana pun sumber daya tersebut
melimpah.
- Pusat Perdagangan dan Kerajaan:
Seiring berdirinya kerajaan-kerajaan dan berkembangnya jalur perdagangan
maritim, pasar-pasar tradisional menjadi pusat aktivitas ekonomi dan
sosial. Di sinilah kebutuhan akan makanan siap saji yang mudah dibeli dan
dibawa menjadi sangat tinggi. Oleh karena itu, jajanan pasar kemungkinan
besar berkembang pesat di kota-kota pelabuhan dan pusat-pusat kerajaan
seperti di Jawa (misalnya, di sekitar Kerajaan Majapahit, Mataram),
Sumatera (Sriwijaya), atau Sulawesi.
- Adaptasi Lokal:
Setiap daerah memiliki bahan baku lokal dan kebiasaan kuliner yang
berbeda. Misalnya, jajanan dari singkong akan lebih banyak di daerah yang
kaya singkong, sementara jajanan dari beras ketan akan populer di daerah
penghasil beras. Ini menunjukkan bahwa jajanan pasar berevolusi secara
independen di banyak tempat berdasarkan ketersediaan bahan dan selera
lokal.
Jadi, bisa dikatakan bahwa jajanan pasar lahir dan berkembang secara simultan di berbagai penjuru Nusantara, seiring dengan kebutuhan masyarakat akan makanan praktis, ekonomis, dan lezat yang terbuat dari bahan-bahan lokal. Ini adalah bukti kekayaan dan keragaman budaya kuliner Indonesia yang tumbuh dari akarnya.
Saat ini, dengan munculnya berbagai inovasi kuliner, penting bagi kita untuk terus menghargai dan melestarikan otentisitas jajanan pasar. Mendukung penjual-penjual tradisional, mempelajari resep-resep kuno, dan mengenalkan jajanan ini kepada generasi muda adalah langkah-langkah kecil namun berarti dalam menjaga warisan budaya kita.
Yuk, ikut serta melestarikan aneka jajanan pasar, khas masakan Nusantara?



